Next
Previous

Jul 21, 2013

0

Pendidikan di Finlandia (Sistem Pendidikan Terbaik)

 
Kali ini saya akan membahas tentang sistem pendidikan di Finlandia. Kenapa Finlandia?  Belakangan ini Finlandia kembali menarik perhatian survei global mengenai kualitas hidup yang mendapatkan predikat no. 1 pada tahun 2010. Sistem pendidkan di Finlandia mendapatan pujian karena dalam beberapa tahun terakhir lulusan di Finlandia memperoleh nilai tes tertinggi di dunia. Finlandia mendapatkan predikat sistem pendidikan terbaik di dunia. Predikat tersebut didapat berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif sejak tahun 2000 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang memperoleh hasil bahwa sistem pendidikan Finlandia menempati urutan teratas dan/atau selalu mendekati atas. Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa (remaja kisaran umur 15 tahun) di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia berhasil membuat siswanya cerdas, bukan hanya unggul secara akademis pada siswa yang normal tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah menta. Di Finlandia siswa diprioritaskan sebagai stakeholder yang paling penting, itu merupakan sistem pendidikan yang inovatif.

Sistem pendidikan di Finlandia pada dasarnya mengadopsi sistem pendidikan yang ada di Israel. Tokoh yang berperan dalam hal ini adalah Profesor Reuven Feuerstein. Beliau adalah seorang psikolog kognitif terkenal didunia, seorang Profesor Psikolog di sekolah pendidikan di Universitas Bar Ilan dan pendiri Istitut Feuerstein (International Center for the Enhancement of Learning Potential) dan seorang Israel penerima Hadiah Nobel di bidang Ilmu Sosial. Feuerstan memfokuskan programnya pada penyampaian kognitif dan kemampuan belajar dimana program tersebut telah diimplementasikan di ratusan sekolah serta lembaga pendidikan dan pelatihan di Israel. Program ini pada dasarnya berfokus pada adaptasi terhadap kelompok individu, terapi dan rehabilitasi untuk orang dengan cedera dikepala, serta mahasiswa berbakat dan luar biasa atau siswa dengan down syndrom.
.
Sistem Feuerstein diterapkan dan digunakan di Finlandia selama lebih dari 20 tahun dalam mengobati autisme dan ketidakmampuan belajar. Dari keberhasilan ini, otoritas pendidikan Finlandia telah memutuskan untuk menerapkan sistem ini pada sekolah-sekolah. Proses pelatihan ini telah selesai di awasi oleh pengawas dari Israel yang ke Finladia untuk berbagi pengetahuan mereka pada guru lokal. Menurut Profesor Feuerstein, sistem yang dikembangkannya berfokus pada konsep bahwa orang memiliki kemampuan untuk mengubah diri mereka, dan kunci untuk ini adalah dalam mengindentifikasi faktor-faktor yang menghambat serta mengenal kelebihan individu (siswa) untuk mengembangkan kemampuan belajar mereka.

Program tersebut pertama kali diimplementasikan pada tahun 1952 pada anak-anak yang selamat dari Holocaust untuk membantu mereka untuk mengintegrasi. Sejak saat itu Prof. Feuerstein mengambil anak-anak dan orang dewasa dari berbagai negara di seluruh dunia dan memiliki situasi yang rumit dan membantu mereka mencapai tingkat lanjut dan belajar sukses. Rahasianya adalah bahwa tidak mengajar konten, melainkan kami menanamkan pembelajaran dan strategi berpikir kognitif.
 
Lalu apa yang menjadi point penting dalam kesusksesan sistem pendidikan di Finlandia? Dalam Mind /Shift yaitu blog yang membahas tentang pendidikan dan pembelajaran, menyebutkan ada 6 poin penting yang menjadi faktor kesuksesan sistem pendidikan di Finlandia. Poin-poin tersebut adalah:
  1. TIDAK ADA SEKOLAH PRIVAT --> Secara teknis ada beberapa sekolah yang independen namun sekolah tersebut mendapatkan dana dari pemerintah dan tidak dikenakan biaya sekolah. menurut sebuah artikel populer di Atlantic tentang sistem sekolah. "Tujuan utama pendidikan adalah untuk melayani sebagai instrumen pemerataan bagi masyarakat," .Di FInlandia semua sekolah mempunyai derajat pendidikan (akreditasi) yang sama, tidak ada predikat sekolah unggul dan sekolah pinggiran. Dalam artikel Atlantic juga mencatat bahwa semua siswa Finlandia menerima makan gratis di sekolah, dan memiliki akses mudah ke perawatan kesehatan, konseling psikologis, dan bimbingan mahasiswa individual.
  2. SEMUA ADMINISTRATOR TELAH BEKERJA SEBAGAI GURU --> Pasi Sahlberg direktur Departemen Finlandia Pusat Pendidikan untuk Mobilitas International dan penulis buku Pelajaran Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland?,  mengatakan bahwa mereka sangat berhati-hati untuk terus menempatkan pendidikan kepada tangan orang-orang pendidik. Menjadi hal yang mustahil ketika menjadi pengwas pendidikan tanpa pernah menjadi seorang guru/pendidik. Dengan kata lain, manajerial pedidikan (administrator) adalah mantan guru. "Jika Anda memiliki orang-orang [dalam posisi kepemimpinan] dengan tidak memiliki latar belakang dalam mengajar, mereka tidak akan pernah memiliki jenis komunikasi yang mereka butuhkan." tambah Sahlberg
  3. TIDAK FOKUS PADA TES --> Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan (pengakuan salah satu siswa di Finlandia, Tuomas Siltala). Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
    Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
    Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.
    Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.
  4. MENGAJAR ADALAH PROFESI YANG DIHORMATI --> Profesi mengajar adalah salah satu karir yang paling terkenal di Finlandia, sehingga orang-orang muda ingin menjadi guru (Henna Virkkunen, Menteri Pendidikan Finlandia kepada Hechinger Report. Di Finlandia, terdapat mindset bahwa guru adalah kunci untuk masa depan dan itu adalah profesi yang sangat penting, itu sebabnya semua, orang-orang muda berbakat ingin menjadi guru. Wajib bagi guru untuk memiliki gelar master, proses yang biasanya membutuhkan waktu lima tahun, dan membutuhkan pengawasan intensif lembaga pelatihan guru. 
  5. PERCAYA PADA GURU --> Guru-guru di Finlandia dapat memilih metode dan bahan pengajaran mereka sendiri. Mereka adalah pakar kerja sendiri, dan mereka menguji murid mereka sendiri ( Virkkunen). Ini juga salah satu alasan mengapa mengajar adalah sebuah profesi yang menarik di Finlandia karena guru bekerja seperti ahli akademik dengan murid mereka sendiri di sekolah.
  6. MENGINTEGRASI MAHASISWA ASING --> Meskipun pada dasarnya Finlandia adalah negara homogen, ada titik titik tertentu di mana populasi imigran tumbuh, khususnya di dekat Helsinki, di mana 30 persen adalah imigran. Jika anak-anak berasal dari sistem pendidikan atau masyarakat yang sangat berbeda, mereka memiliki satu tahun dalam pengaturan yang lebih kecil di mana mereka belajar tentang Finlandia dan mungkin beberapa mata pelajaran lain (Virkkunen). "Kami mencoba untuk meningkatkan tingkat mereka sebelum mereka datang ke kelas reguler." Sekolah Finlandia juga mencoba untuk mengajar bahasa asli siswa imigran 'sebanyak mungkin. Hal tersebut merupakan tentangan bagi pelakupendidikan di Finlandia. "Saya pikir di Helsinki, mereka mengajar 44 bahasa ibu yang berbeda. Pemerintah membayar dua jam setiap minggu untuk pelajaran murid tersebut. Kami pikir itu sangat penting untuk mengetahui lidah siswa tersebut, bahwa siswa tersebut dapat menulis dan membaca dan berpikir di dalamnya (bahasa ibu). Maka dengan itu lebih mudah juga untuk belajar bahasa lain seperti pelajaran Finlandia atau Inggris, atau lainnya.
Secara taktis komponen keberhasilan pelaksanaan pendidikan di Finlandia dapat dijabarkan pada poin-poin sebagai berikut:
  • Setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.
  • Satu orang guru (gelar s2) bertindak sebagai guru mata pelajaran sedangkan satu orang lagi (gelar s1) menjadi pengawas dan pembimbing setiap siswa dalam memahami setiap bidang studi dan mendampingi anak secara individual apabila mengalami kendala saat proses belajar berlangsung.
  • Dimana setiap kecakapan dan keterampilan dibidang tertentu yang dimiliki oleh setiap siswa (extrakurikuler), bila sudah merasa mampu bisa mengusulkan diri untuk di uji.
  • Maka, tugas tugas (PR), les tambahan dan bimbingan ini dan itu nyaris tidak pernah ada di Finlandia. Bagaimana dengan tanah air? Tekanan yang begitu berat sangat terasa apalagi menjelang ujian nasional.
  • Sedangkan untuk SD dan SMP tidak lagi mengeluarkan izajah mengingat tuntutan dunia kerja saat ini pun izajah dua jenjang pendidikan ini tidak begitu diperlukan. Oleh karena itu, perpindahan dari tingkat SD ke SMP cukuplah dengan nilai rapor begitu juga dari SMP ke SMA.
  • Evaluasi belajar secara nasional hanya dilakukan dijenjang SMA ketika yang bersangkutan akan melanjut keperguruan tinggi atau merambah dunia kerja.
  • Para siswa di Finlandia tidak mengenakan seragam. Bahkan kepala sekolah mengenakan celana jeans dan kemeja berleher terbuka di sekolah. karena mereka adalah para akademisi dan sudah terlatih.
  • Anak-anak belajar dalam suasana yang santai dan informal.
  • Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan masuk kelas siswa harus melepas sepatu, hanya berkaus kaki
  • Persekolahan tingkat dasar dan menengah digabung, sehingga murid tidak perlu berganti sekolah pada usia 13. Dengan cara ini, mereka terhindar dari masa peralihan yang bisa menganggu dari satu sekolah ke sekolah lain
  • Jasa termasuk makan siang panas gratis setiap hari, kesehatan sekolah dan transportasi gratis bagi anak-anak yang tinggal terlalu jauh dari sekolah untuk berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum.
  • Siswa bahkan tidak diharuskan untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha sebaik mungkin.
  • Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing
  • Tidak ada metode belajar ceramah, menciptakan suasana proses belajar-mengajar itu menyenangkan (learning is fun) melalui penerapan belajar aktif
  • Bahasa asing mulai diajarkan dari kelas I SD. Alasan kebijakan ini adalah memenangkan persaingan ekonomi di Eropa, membuka kesempatan kerja lebih luas bagi lulusan, mengembangkan wawasan menghargai keanekaragaman kultural.
  • siswa-siswa Finlandia ke sekolah hanya sebanyak 190 hari dalam satu tahun. Jumlah hari liburnya 30 hari lebih banyak daripada di Indonesia yang 220 hari
  • Setiap anak diwajibkan mempelajari bahasa Inggris serta wajib membaca satu buku setiap minggu.
  • Semua siswa di bimbing menjadi pribadi yang mandiri, mencari informasi secara independent. Karena dengan adanya banyak pen-dekte-an membuat para siswa akan merasa tertekan dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
  • Kegemaran membaca aktif didorong
  • Stasiun TV menyiarkan program berbahasa asing dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.
  • Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan
  • Anak Finlandia tidak diijinkan belajar sebelum usia tujuh tahun, "kami menghormati masa kecil anak-anak dan hak mereka untuk bermain. di Finlandia mereka tak diharuskan bersekolah sampai mereka cukup besar untuk bisa duduk tenang dan mematuhi aturan
Sumber:

Jul 20, 2013

0

Kesenjangan Pendidikan (Sebuah Hambatan Untuk Memenuhi Janji Kemerdekaan)

Kesenjangan Pendidikan
(Sebuah Hambatan Untuk Memenuhi Janji Kemerdekaan)

Pendidikan, merupakan pilar pokok pembangunan untuk menuju bangsa yang maju. Tanpa adanya pendidikan suatu bangsa sudah dapat dipastikan akan tertinggal dan peradabannya pun statis. Terlebih di era yang serba canggih ini, dimana tak ada batasan antara ruang dan waktu serta persaingan yang semakin menjadi budaya, pendidikan dirasa merupakan suatu hal yang urgent dan pokok, dapat dikatakan pendidikan adalah pegangan untuk mengikuti kemajuan-kemajuan yang ada, jika kita tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan maka dengan sendirinya kita akan terlibas zaman, oleh karena itu pendidikan akan selalu berkembang sejalan dengan berkembangnya zaman.
Pendidikan mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks, hingga tidak ada batasan tentang definisi pendidikakn. Pendidikan dapat didefinisikan sebagai proses transformasi budaya, proses pembentukan kepribadian, proses penyiapan individu yang kompeten dan berpengetahuan, proses penyiapan warga Negara, maupun proses internalisasi nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. GBHN 1988 (BP 7 Pusat, 1990:105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: Pendidikan Nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Melalui pendidikan kader-kader penerus bangsa di cetak untuk menjadikan bangsa ini semakin maju dan berkembang peradabannya.
Pendidikan mempunyai tugas dan fungsi yang sangat kompleks, terutama dalam membentuk kader-kader bangsa yang berkompeten, bermoral, dan mempunyai visi dan misi dalam hidup.  Pendidikan juga berperan dalam memberi motivasi, penyadaran dan pengharapan kepada generasi-generasi penerus bangsa, karena eksistensi bangsa terletak pada tangan generasi-generasi penerusnya. Terciptanya generasi yang bermotivasi untuk maju, memepunyai kesadaran akan peran dan statusnya, serta mempunyai pengharapan untuk lebih baik di masa depan merupakan modal yang sangat bagus untuk menjadikan bangsa ini semakin maju dan berkembang.
Pendidikan berkaitan dengan salah satu tujuan Negara Republik Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1995 alinea ke IV, yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, karena melalui pendidikan negara dapat mencerdaskan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya sekedar tujuan, itu juga merupakan janji kemerdekaan. Enam puluh enam tahun Indonesia merdeka, namun masalahnya, apakah tujuan dan janji kemerdekaan tersebut telah tercapai? Belum sepenuhnya. Sebagian rakyat Indonesia memang sudah terpenuhi, namun tak sedikit yang masih belum tersentuh pendidikan sehingga tujuan dan janji kemerdekaan tersebut belum dapat terpenuhi.
Faktor apa saja yang menghambat pencapaian tujuan dan pemenuhan janji kemerdekaan tersebut? Banyak  faktor yang  menghambat pencapaian tersebut, salah satunya adalah kurangnya keadilan dan kesetaraan dalam dunia pendidikan yang mengakibatkan tidak meratanya pendidikan dan inilah penghambat terbesar dalam pencapaian tujuan dan pemenuhan janji “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Kesenjangan yang terjadi di dunia pendidikan sangat kompleks, dilihat dari perspektif geografis maupun perspektif social-ekonomi.Kita lihat saja fenomena yang terjadi di negeri kita ini, pendidikan berjalan timpang, antara mereka yang menempati posisi menengah ke atas dan mereka yang menempati posisi menengah ke bawah, antara  sekolah yang terletak di kota dan sekolah yang terletak di pedalaman, antara sekolah yang berlabel dan yang tidak. Sepertinya pendidikan sudah terkotak-kotak dan terbentuk sistem kasta, sehingga kesetaraan dan keadilan dalam dunia pendidikan tidak mempuyai esensi yang pasti.
Masyarakat yang mempunyai uang cukup lebih cenderungmemperoleh pendidikan yang berkualitas, sedangkan masyarakat yang berpenghasilan kurang cenderung sulit untuk menjangkau pendidikan yang berkualitas.“Pendidikan yang Berkualitas itu Mahal” apakah benar pernyataan seperti itu? Iya, memang benar pendidikan yang berkualitas itu mahal, tidak bisa dipungkiri bahwa fasilitas yang canggih, sarana yang memadai dan sumberdaya pengajar yang berkualitas memang memerlukan biaya lebih. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang tidak mampu? Apakah mereka bisa mendapatkan pendidikan berkualitas, sedangkan mereka tidak mempunyai biaya untuk itu?. Pendidikan yang berkualitas itu memang memebutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam tanda kutip “Mahal”, hal itulah yang telah menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan masyarakat. Bagi mereka yang tidak mampu mahalnya biaya pendidikansangat memberatkan mereka dan pilihan terakhir adalah tidak mengenyam pendidikan. Pernyataan seperti itu adalah salah, pendidikan bermutu memang mahal tapi masyarakat - terutama masyarakat miskin-  tidak seharusnya mengeluarkan biaya mahal untuk memperoleh pendidikan, bukankah mereka berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu dan bukankah itu adalah tujuan dan janji Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN maupun APBD, semestinya pemerintah mampu menyediakan pendidikan yang bermutu tanpa harus ada kesenjangan antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin.
Dalam perspektif geografis, kesenjangan pendidikan terlihat jelas pada daerah pedalaman dan daerah perkotaan. Lihat saja, di daerah yang masih tejangakau oleh pusat pemerintahan pendidikan berjalan dengan sangat maju. Sarana-prasarana pendidikan sangat mendukung keberlangsungan pendidikan, sumber daya pengajarnya pun mempunyai latar belakang pendidikan yang bagus, berkualitas dan berkompeten. Sedangkan di daerah pedalaman, jangankan sarana pendidikan, mengenal pendidikan formal saja mungkin merupakan hal yang asing bagi mereka. Keterbatasan akses pendidikan, menjadikan daerah-daerah pedalaman itu tertinggal. Terlihat jelas bahwa pendidikan di Indonesia hanya berpusat di Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi, daerah-daerah di luar itu peningkatan mutu pendidikannya masih kurang dari yang diharapkan, sungguh terjadi kesenjangan antara Indonesia bagian timur dan Indonesia bagian barat.
“Pendidikan adalah hak setiap warga Negara” itu yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28C ayat (1) dan pasal 31. Sudah semestinya pemerintah dan para stake holder memberikan akses pendidikan yang sama rata bagi masyarakat.  Oleh karena itu kesenjangan di dunia pendidikan ini perlu dihapuskan. Selama kesenjangan dalam pendidikan masih ada, maka tujuan dan janji kemerdekaan yaitu terciptanya bangsa yang cerdas tidak akan tercapai sepenuhnya. Pencapaian tujuan dan pemenuhan janji kemerdekaan tersebut harus menyeluruh, tidak mungkin hanya beberapa pihak saja yang tercapai tujuan dan terpenuhi janji nya. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang utuh, satu anak bangsa belum tersentuh pendidikan, tujuan dan janji kemerdekaan itu tidak akan pernah bisa terpenuhi. Janji kemerdekaan harus dipenuhi dan kesenjangan harus dihapuskan demi terciptanya Indonesia yang cerdas.

Dec 16, 2012

0

:)

Pelukan itu masih dan akan selalu aku rasakan .. :') nanti ... ketika aku terletak jauh dari sini, rumah .. kampung halaman ku .. pasti dan akan selalu merindukannya :) terimakasih Ibu.. Ayah ..

Dec 9, 2012

0

Earth and Art

Posted in
Art is everything, colour.. shapes.. details.. abstrack.. Art is my venue.. my life.. my beautifull thing .. 
ART .. is part of earth .. like a tagline in one of hotel in Surabaya .. 
"EARTH without ART just -EH-"

Sep 22, 2012

0

dan itu namanya DIAM

Posted in
catatan kecil ini .. adalah diam..

terdengar dalam diam.. hanya aku dan perasaan ini, bukan fikiran.. tapi rasa.. jangan mencoba untuk mengakal.. aku hanya ingin merasa tanpa rasio.. diam.. itu sudah terlampau indah untuk membuatku merasa tenang.. dalam diam rasa dan asa yang ku simpan.. terlepas benar atau salah.. diam, teman yang tak akan berhianat.. cukup hati dan aku yang berbicara.. kehidupan mendatang, yang aku lukiskan dalam diam.. diam .. rasa yang begitu hijau.. diam, untukmu ku persembahkan diam .. dalam diam suatu saat kita buktikan lukisan itu nyata atau hanya kekonyolan dalam rasa yang diam.. sekali lagi dan satu yang aku rasakan untuk kehebatan yang dimiiki nya atas KaruniaNya .. Wallahu A'lam