A Story From the President 'BEM KM UA'
Posted in my Story
Kali ini aku mendapat satu cerita .. cerita motivasi? atau lebih tepatnya cerita yang membekali kita untuk selalu berfikir.. berfikir yang terbaik, berfikir untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita punya, untuk merubah masa depan ke arah perubahan yang positif.. #sekiranya seperti itu .. hehe
oke.. kurang lebih begini ceritanya, check it out ..
Di suatu Negeri antah berantah yang agraris, suatu ketika mengalami musim paceklik. Warganya banyak yang kekurangan pangan, tak ada hasil pertanian yang diharapkan. Hujan pun enggan turun, walaupun sekedar membasuh muka bumi nya, hingga suatu saat pemimpin negeri itu meminta semua warganya berkumpul di alun-alun untuk mengumumkan bahwa akan diadakan upacara meminta hujan. Sang pemimpin memerintahkan kepada warganya yang hampir keseluruhan adalah peternak sapi untuk menyediakan satu belangga hasil susu perahan yang terbaik, yang nantinya akan dijadikan persembahan dalam upacara meminta hujan. Keadaan di negara itu memang sudah sangat memprihatinkan, kelaparan dan kekeringan melanda.
Setting lain, di salah satu rumah warga yang baru menghadiri pertemuan umum tersebut sedang terjadi kejolak. Keluarga warga itu sangatlah miskin, makan saja serba kekurangan. Kepala keluarga itu sangat dilema, dilihatnya dua buah belangga di dapur, satu berisi susu dan satu yang lain berisi 'tajin'. Tajin adalah cairan putih yang diperoleh ketika menanak nasi, hampir mirip seperti susu. Pria itu berfikir, apakah aku harus menyerahkan susu ini, sedangkan keluarga ku sangat kekurangan gizi, ataukah aku akan menyerahkan air tajin ini agar keluargaku dapat berlangsung hidup dengan air susu. Lama ia berfikir, menimbang-nimbang manakah yang akan ia serahkan dalam upacara meminta hujan tersebut? apakah susu atau air tajin , dan pada akhirnya ia berfikir "Ahh.. tak apa jikalau aku serahkan air tajin ini, apalah berartinya satu belangga air tajin dengan seribu belangga susu yang diberikan warga yang lain?.. akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan sebelangga air tajin tersebut.
Ke esokan harinya, lelaki itu bergegas pergi ke alun-alun untuk menyerahkan dan menuangkan air tajin ke sebuah belangga besar yang ada di alun-alun sebagai persembahan, ia berangkat pagi-pagi agar tidak diketahui warga yang lain bahwa ia menuangkan air tajin bukannya susu. Upacara pun dimulai,setelah semua warga menuangkan sesembahannya ke dalam belangga raksasa, sang pendeta pun memulai upacara meminta hujan. Dibacanya matera-mantera atau do'a-do'a utnuk meminta hujan, biasanya tak lama dari itu hujan turun namun apa yang terjadi?? beberapa waktu, hujan tak juga turun. Sang raja merasa ada yang jangga, apa yang membuat hujan tak juga turun, padahal sudah dipersembahkan sesembahan terbaik dari semua warganya. Sang raja pun berinisiatif untuk memeriksa belangga sesembahan yang dikira berisi susu. betapa terkejutnya sang raja bahwa yang ada dalam belangga itu semuanya hanyalah air tajin dan tak ada susu sedikitpun. Begitulah, seseorang pria tadi mengira bahwa hanya dia yang berfikiran akan memberikan air tajin, namun seribu warga lainnya berfikiran sama seperti dia. Andai saja dia tak berfikiran seperti itu, mungkin masih ada kandungan susu dalam belangga sesembahan itu, dan sedikit ada harapan untuk hujan turun.
Begitulah sekiranya, sekarang kita yang memilih apakah kita akan memberi "TAJIN" atau "SUSU" untuk diri kita sendiri, untuk orang lain, untuk almamater, untuk bangsa dan negara? Ini adalah pilihan kita, apa yang kta berikan sedikit atau banyak, baik atau buruk akan berpengaruh terhadap kita sendiri dan objek yang kita beri.. Pastinya, apapun yang kita berikan dengan sungguh-sungguh dan dengan kualitas yang terbaik akan menghasilkan yang terbaik pula .. seperti motto dalam hidup ku ..
"Life is about doing and giving, what will we do and what will we give that's what we achieved"
Mari lakukan yang terbaik, untuk perubahan yang lebih baik.. perubahan itu perlu, perubahan itu pasti dan perubahan itu adalah kesuksesan.. !!


0 komentar: